Gayo Harus Perkuat Promosikan Kopi Organik

By Detik Aceh Admin Pada Selasa, 26 Februari 2013 0 komentar
TAKENGON - Warga Gayo yang berada di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah harus memperkuat mempromosikan kopi organik yang telah menjadi nomor satu dunia. Sebagai produsen kopi terbesar di Asia Tenggara, dua daerah ini harus fokus mempromosikan kopi dalam konsep wisata.

Demikian kesimpulan dalam Seminar Internasional, di Hotel Darussalam, Kecamatan Lut Tawat, Aceh Tengah, Senin (25/2) dengan tema “Mengintegrasi Kopi Organik dan Pariwisata Gayo guna Meningkatkan Taraf Hidup Masyarakat”. Seminar dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari pengusaha kopi, pecinta kopi, mahasiswa dan tokoh masyarakat.

Seminar yang digelar Youth Gayo Coffee ini, narasumber Win Wan Nur dari konsultan Media Fortune yang bekerja sama dengan perusaaan Prancis, Eccocert yang membidangi sertifikasi produk organik. Dia mengatakan, pemerintah jangan salah menginterpretasikan wisata, tetapi harus dibedakan antara potensi wisata, produk dan ekses wisata.

Dikatakan, dari ratusan ribu tujuan wisata di dunia, masing-masing memiliki identitas khusus. “Kopi harus jadi ikon dataran tinggi, karena unik dari segi rasa, tanah, cuaca, sehingga kopi gayo mewakili semua cita rasa kopi di dunia,” ujarnya, Disebutkan, sebanyak 80 persen konsumen kopi dunia meminum kopi Arabica, jenis yang berkembang baik di kawasan Gayo.

Untuk mendukung itu, semua kebijakan pemerintah daerah harus berorientasi kepada wisata kopi, baik dari segi tata ruang, dan bangunan. “Sesuai zona, kita fokus saja ke sebuah produk seperti kopi, terutama kopi organik, sehingga makin dikenal yang berimbas pada membaiknya harga pasar,” tambahnya.

Sementara itu, Marie Pailler, Manejer Pengembangan Bisnis dari Eccocert mengatakan, pihaknya siap memasukkan kopi Gayo ke dalam brand mereka yang punya lisensi cukup ternama dalam bidang makanan organik. “Kita sedang penjajakan, jika kopi organik memungkinkan persediaan dan mutunya, kami akan dirikan perusahaan di Indonesia,” katanya.

Menanggapi ini, Kasubdit Perencanaan Sarana Bappeda Aceh Tengah, Jummara mengatakan, ia menyambut baik saran tersebut. “Pada dasarnya, pemerintah daerah sudah mulai fokus terhadap wisata dan kopi, tapi belum berkembang baik,” jelasnya.[aceh.tribunnews.com]
READ MORE

Sejumlah Desa di Aceh belum Berlistrik

By Detik Aceh Admin Pada 0 komentar
BANDA ACEH - Sejumlah desa di Aceh Utara dan Aceh Timur, hingga saat ini belum tersambung jaringan listrik. Desa-desa tersebut umumnya berada di pedalaman. PLN akan menuntaskan perluasan jaringan ke seluruh pelosok Aceh pada 2015 mendatang.

Menurut Deputi Manajer Hukum dan Humas PLN Wilayah Aceh, Said Mukarram, hingga saat ini masih ada 9,14 persen wilayah di Aceh belum tersedia jaringan PLN. “Jaringan PLN belum menjangkau semua daerah pesisir dan pedalaman. Kami berharap kerja sama pemerintah setempat dan investor untuk perluasan jaringan,” katanya kepada Serambi, baru-baru ini.

Di Aceh Utara, sebut Said, PLN mencatat beberapa desa yang belum teraliri listrik yang tersebar di Kecamatan Cot Girek, Sawang, dan beberapa kecamatan lain. “Di Aceh Timur, seperti Desa Tualang Sawet, Alur Kentang, dan Blang Simpo. Desa-desa ini sudah masuk dalam daftar jaringan PLN yang akan disediakan tahun ini,” papar Said.

Pada bagian lain, Said Mukarram menyebutkan saat ini pelanggan PLN Aceh sudah 1 juta lebih. Menurutnya, Aceh mengalami surplus energi. Saat ini PLN mempunyai investasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Nagan Raya dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Peusangan. Selain itu PLN juga mendapat suplai energi dari PLTU swasta.

“Kami siap bekerja sama dengan investor lokal maupun luar daerah untuk mendayagunakan sumber energi baru, seperti energi tenaga surya dan panas bumi yang ada di Aceh,” pungkasnya.[aceh.tribunnews.com]
READ MORE

Harga Sepeda Ontel Capai Puluhan Juta

By Detik Aceh Admin Pada 0 komentar
Harga Sepeda Ontel Capai Puluhan Juta
Ontel | gambar : aceh.tribunnews.com
BANDA ACEH - Makin tua makin berkilau. Agaknya hal ini juga berlaku untuk sepeda ontel. Bayangkan saja, harga sepeda jadul ini bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tidak heran peminatnya berasal dari kalangan pejabat dan pengusaha.

Di Banda Aceh, komunitas pecinta sepeda ontel ini tumbuh sejak beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, sepeda ini biasa digunakan masyarakat perkotaan sampai tahun 1970-an dan secara perlahan kemudian bergeser ke kawasan pedesaan.

Ada beberapa merek yang beredar di Indonesia. Pada segmen premium terdapat misalnya merek Fongers, Gazelle dan Sunbeam. Kemudian pada segmen di bawahnya diisi oleh beberapa merek terkenal antara lain seperti Simplex, Burgers, Raleigh, Humber, Rudge, Batavus, Phillips dan NSU.

Informasi yang dihimpun Serambi Jumat (22/2), jenis sepeda ontel yang banyak diminati di Banda Aceh adalah Gazelle dan The Raleigh. Gazelle merupakan buatan Belanda, mempunyai kenyamanan, sparepart, dan kualitas yang baik. Harganya mulai dari Rp 2,5 juta sampai puluhan juta. Sedangkan The Raleigh berkisar dari Rp 1,5 juta hingga Rp 15 juta.

Untuk jenis sepeda ontel lainnya, seperti Valuas, Fongers, danSimplex dibanderol mulai dari Rp 500.000 sampai dengan Rp 4 juta. Sedangkan harga sparepart serta untuk merakit kembali mulai Rp 500.000 sampai Rp 2 juta.

“Sepeda ontel mahal karena langka dan susah dicari bahannya. Semua barang dan bahannya dari Yogyakarta dan Kediri,” ungkap Pengelola Usaha Sepeda Ontel, Hari, kepada Serambi kemarin. Di Banda Aceh, sambung Hari, peminatnya banyak berasal dari kalangan pejabat pemerintah dan pengusaha.(m)

kisaran harga
- Gazelle Rp 2,5 juta - puluhan juta
- The Raleigh Rp 1,5 juta - Rp 15 juta
- Valuas, Fongers, dan Simplex Rp 500.000- Rp 4 juta

Permintaan Sepi

PENJUALAN sepeda secara umum pada awal tahun ini mengalami penurunan. Pengelola Usaha Sepeda Ontel, Hari, mengaku bulan ini hanya menjual 10 unit sepeda. Hal yang sama juga diakui pemilik usaha sepeda ontel lainnya, Bakhtiar. Ia mengaku bulan ini hanya mampu menjual lima unit.

“Kondisi ekonomi mengakibatkan pembeli sepeda ontel berkurang, sebulan hanya lima orang. Jika kondisi ekonomi membaik, setiap bulan bisa mencapai 10 sampai 15 pembeli seperti tahun 2012 lalu,” kata Bakhtiar.

Sepeda sport juga demikian. Permintaan meningkat hanya jika ada even-even tertentu seperti lomba sepeda. “Jika ada even-even tertentu, seperti lomba sepeda, banyak yang mencari sepeda gunung,” ujar pedagang sepeda, Anwar.

Sepeda elektrik juga sama. Beberapa bulan terakhir ini mengalami penurunan pembeli. “Dalam seminggu ini hanya terjual satu atau dua bahkan tidak ada sama sekali,” ujar seorang pedagang.

Sepeda elektrik dijual berkisar antara Rp 4 juta sampai Rp 5 juta. Sepeda ramah lingkungan yang menggunakan baterai ini dapat menempuh 50 km/jam. Saat daya habis, dayunggan sepeda dapat mengisi baterai, namun jarak yang dapat ditempuh tidak terlalu jauh.[aceh.tribunnews.com]
READ MORE